Kisah Ana dan Husnul, Guru Honorer Metro yang Berjuang agar Bisa Kembali Mengajar


SEKELIK METRO – Di balik polemik 23 guru honorer yang dirumahkan di Kota Metro, ada cerita pilu tentang pengabdian yang terputus tiba-tiba. Dua di antaranya, Ana Selvia dan Husnul Khotimah, akhirnya buka suara kepada viralnews7.com, Sabtu (26/9/2026).

Keduanya bukan guru baru. Ana mengaku telah mengabdi sejak 2019 dan tercatat resmi di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sebelum 31 Desember 2024. Namun, tanpa surat resmi, ia dirumahkan pada Januari 2026.

“Dirumahkannya dari Januari 2026. Saat itu alasannya karena terdampak UU ASN Nomor 20 Tahun 2023 dan tidak bisa digaji lagi dari dana BOS. Padahal tidak sinkron dengan juknis BOSP Kemendikbud yang masih memperbolehkan guru honorer di sekolah negeri digaji,” ungkap Ana.

Ana mengaku sempat bernegosiasi dengan kepala sekolah dan operator sekolah agar datanya jangan dulu dikeluarkan dari Dapodik. Harapan itu pupus pada Maret 2026.

“Operator menyampaikan Dapodik saya tidak bisa dipertahankan lagi karena sudah ada instruksi dari Dinas Pendidikan Kota Metro,” katanya.

Dipanggil Kepsek, Status Dapodik Tiba-tiba Mutasi

Nasib serupa dialami Husnul Khotimah, guru di SDN 1 Metro Timur. Pada 10 Januari 2026, ia dipanggil kepala sekolah.

“Kata beliau semua upaya sudah diupayakan namun tidak bisa dipertahankan. Alasannya honorer ASN sudah tidak bisa digaji dari dana BOS,” tutur Husnul.

Lima hari berselang, tepatnya 15 Januari 2026, saat ia mengecek Dapodik, statusnya sudah berubah menjadi mutasi. Ia pun mencoba memohon kepada operator Dinas Pendidikan Kota Metro agar datanya dititipkan dulu sambil menunggu regulasi baru, namun ditolak.

“Bahkan Dinas mengancam akan mengeksekusi sekolah yang masih mempertahankan guru honorer,” ujarnya.

Perjuangan Panjang: Dari DPRD hingga ke Jakarta

Sejak dirumahkan, 23 guru ini tidak tinggal diam. Perjuangan panjang mereka mulai dari koordinasi dengan PGRI Kota Metro, audiensi dengan Dinas Pendidikan, hingga Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Kota Metro.

Mereka juga sempat mencoba beraudiensi dengan Wali Kota Metro, namun belum berhasil ditemui. Tak menyerah, laporan dilayangkan ke Ombudsman, bahkan mereka terbang ke Jakarta untuk mengadu ke Fraksi NasDem DPR RI.

Dalam perjuangan itu, ada satu nama yang mereka sebut paling berjasa: Hi. Abdulhak, S.H., M.M., Ketua DPD Partai NasDem Kota Metro yang juga Wakil Ketua II DPRD sekaligus Pembina PGRI.

“Beliau sampai mempertaruhkan semua jabatannya demi memperjuangkan nasib kami. Semangatnya tidak pernah pudar,” ujar mereka dengan haru.

Kini, harapan Ana, Husnul, dan 21 rekan lainnya hanya satu: Dapodik dipulihkan dan bisa kembali mengajar di sekolah yang mereka cintai.

“Dana BOS berapa bulan tidak dibayar tidak masalah, yang penting data kami bisa aktif kembali. Karena kecintaan kami kepada murid dan sekolah sangat luar biasa,” tutup mereka. (*)