SEKELIK METRO – Reses Anggota DPRD Provinsi Lampung, Tondi Muammar Gaddafi Nasution, tidak hanya menjadi ruang untuk menampung daftar keluhan warga. Dalam kegiatan yang berlangsung di Jalan Mawar, Kelurahan Metro, Kecamatan Metro Pusat, Tondi mendorong masyarakat memilah persoalan paling mendesak agar dapat diperjuangkan sebagai prioritas.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah tokoh masyarakat, tokoh adat, Ketua LPM, Ketua RT/RW, warga, serta mahasiswa KKL Universitas Malahayati menyampaikan beragam aspirasi. Menurut Tondi, banyaknya aspirasi bukan menjadi ukuran utama keberhasilan reses. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap persoalan memiliki arah penyelesaian dan manfaat yang jelas bagi masyarakat.
“Reses bukan sekadar mencatat apa yang disampaikan masyarakat. Kita harus melihat mana yang paling dibutuhkan, mana yang mendesak, dan mana yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Tondi, Rabu (13/8/2026).
Anggota dewan dari fraksi Golkar itu meminta warga tidak ragu menyampaikan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari fasilitas umum yang membutuhkan perbaikan, akses pelayanan, persoalan kesehatan dan pendidikan, hingga masalah lingkungan menjadi bagian dari aspirasi warga Metro.
“Kalau ada fasilitas yang rusak atau kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi, sampaikan. Kita petakan bersama. Setelah itu kita lihat mana yang menjadi kewenangan dan mana yang harus kita dorong kepada pemerintah terkait,” ujarnya.
Tondi menegaskan, setiap aspirasi memiliki nilai ketika benar-benar diperjuangkan. Karena itu, ia tidak ingin hasil reses hanya berakhir dalam laporan atau menjadi tumpukan catatan tanpa tindak lanjut.
“Jangan sampai masyarakat sudah menyampaikan kebutuhan, tetapi kemudian berhenti sebagai daftar usulan. Kita harus berusaha agar ada tindak lanjut sesuai skala prioritas,” tegasnya.
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam reses DPRD Lampung tersebut adalah pengelolaan sampah. Warga didorong melihat sampah bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai potensi yang dapat memberikan nilai ekonomi.
Menurut Tondi, bank sampah dapat menjadi salah satu pilihan. Namun, program tersebut tidak cukup hanya dengan membentuk kepengurusan. Warga perlu terlibat sejak dari rumah dengan memilah sampah, sementara pengelola harus memastikan sampah yang terkumpul memiliki sistem pengelolaan dan pemasaran yang jelas.
“Bank sampah jangan hanya ada namanya. Harus ada kegiatan, ada masyarakat yang terlibat, ada pengelolaan dan kalau memungkinkan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” katanya.
Selain persoalan lingkungan, kegiatan reses juga diwarnai edukasi kesehatan oleh mahasiswa KKL Universitas Malahayati. Mereka memberikan pemahaman dasar mengenai hubungan kondisi psikologis dengan kesehatan fisik, termasuk psikosomatik dan mindfulness. Tondi juga mengapresiasi kegiatan positif mahasiswa melalui program rocket stove bakar sampah yang dinilai kreatif.
Edukasi tersebut menjadi bagian lain dari pertemuan warga. Masyarakat diajak memahami bahwa tekanan psikologis dapat berhubungan dengan keluhan fisik pada sebagian orang, sekaligus pentingnya mengenali kondisi diri dan mengelola stres.
Tondi menilai, aspirasi masyarakat tidak selalu berbentuk pembangunan fisik. Kebutuhan terhadap edukasi, kesehatan, lingkungan dan pelayanan masyarakat juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam menyerap aspirasi warga Metro.
“Persoalan masyarakat itu tidak hanya soal jalan atau bangunan. Kesehatan, pendidikan, lingkungan dan pelayanan juga harus menjadi perhatian. Karena itu, kita perlu mendengar masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Ia berharap reses menjadi titik awal untuk membawa persoalan warga ke pembahasan yang lebih konkret. Aspirasi yang masuk akan dipilah berdasarkan kebutuhan, urgensi dan dampaknya bagi masyarakat.
“Yang kita cari bukan daftar usulan yang panjang. Yang kita cari adalah persoalan yang benar-benar penting dan bagaimana kita bisa mendorong penyelesaiannya,” pungkas Tondi. (MNP/fi)


0 Komentar