Kasus Kematian Dokter Zulfikar Drakel: IDI Pastikan Tak Ada Indikasi Kerja Berlebihan

SEKELIK METRO, Bandarlampung – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Lampung menyampaikan hasil investigasi terkait meninggalnya dokter peserta Program Internship Dokter Indonesia (PIDI), Muhammad Zulfikar Drakel. Dari penelusuran yang dilakukan, tim tidak menemukan adanya indikasi beban kerja berlebihan (overwork), perundungan (bullying), maupun tindak kekerasan selama almarhum menjalani tugas.

Ketua IDI Lampung, Josi Harnos, mengatakan investigasi melibatkan berbagai pihak, mulai dari rekan sesama dokter internship, dokter pendamping, manajemen rumah sakit, hingga direktur RSUD tempat Zulfikar bertugas.

Menurut Josi, hasil penelusuran justru mengarah pada dugaan adanya penyakit penyerta yang sebelumnya tidak diketahui oleh lingkungan kerja maupun rekan-rekan almarhum.

Selain itu, tim juga menemukan indikasi infeksi pada tubuh Zulfikar. Namun, penyebab pasti infeksi tersebut belum dapat dipastikan karena keluarga memutuskan tidak memberikan izin untuk dilakukan autopsi.

"Kami menghormati keputusan keluarga. Karena autopsi tidak dilakukan, jenis infeksi maupun penyebab pastinya tidak dapat dipastikan," ujar Josi.

Ia menambahkan, almarhum dikenal sebagai sosok yang tertutup dan lebih banyak tinggal sendiri sehingga riwayat kesehatannya tidak banyak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya.

Atas dasar itu, IDI menilai kasus meninggalnya Zulfikar memiliki karakteristik berbeda dan tidak bisa disamakan dengan sejumlah kasus dokter internship yang pernah terjadi sebelumnya.

IDI Lampung juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Zulfikar Drakel. Organisasi profesi tersebut mengapresiasi kolaborasi Kementerian Kesehatan, Kepolisian, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes), Pengurus Besar IDI, serta Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dalam proses investigasi.

Muhammad Zulfikar Drakel meninggal dunia pada 21 Juli 2026 saat menjalani masa penugasan sebagai dokter internship di RSUD Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. (RED)