-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Data Gagal Panen Diperdebatkan, Petani Metro Selatan Minta Pemerintah Turun Langsung ke Sawah

4/23/26 | April 23, 2026 WIB | Last Updated 2026-04-22T17:10:40Z


SEKELIK METRO  – Audiensi antara puluhan petani dari Metro Selatan dengan Pemerintah Kota Metro di kantor DPRD, Rabu (22/4/2026), berlangsung tegang. Perbedaan data terkait dampak gagal panen menjadi pemicu utama memanasnya forum tersebut.

Sekitar 70 petani mendatangi DPRD untuk menyampaikan keluhan atas banjir yang berulang kali merendam lahan pertanian mereka. Banjir yang terjadi sejak Februari disebut menyebabkan kerugian besar.

Petani menyebut luapan saluran pengairan membuat puluhan hektare sawah di wilayah Rejomulyo dan Sumbersari tidak bisa dipanen. Kondisi itu berdampak langsung pada penghasilan mereka.

Namun suasana mulai berubah saat Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Metro, Heri Wiratno, memaparkan data pemerintah. Ia menyebut jumlah petani terdampak relatif sedikit.

“Berdasarkan data kami, hanya tujuh petani yang terdampak,” kata Heri dalam forum audiensi.

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi dari para petani. Mereka menilai angka tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Kami yang turun langsung ke sawah, kami yang merasakan dampaknya. Jangan hanya berdasarkan data di meja,” ujar salah satu petani.

Menurut mereka, jumlah petani terdampak mencapai puluhan orang. Perbedaan data itu dinilai terlalu jauh dan tidak mencerminkan fakta sebenarnya.

Perdebatan pun tak terhindarkan. Sejumlah petani bahkan menuding pemerintah daerah tidak serius dalam melakukan pendataan.

Melihat situasi yang semakin memanas, Ketua DPRD Kota Metro, , mengambil alih jalannya audiensi. Ia berupaya menenangkan suasana rapat.

“Saya sudah komunikasikan dengan Komisi III. Mereka akan turun ke lapangan untuk memastikan data itu sinkron atau tidak,” ujar Ria.

Ia juga meminta pemerintah kota segera berkoordinasi dengan serta Pemerintah Provinsi Lampung. “Harus ada solusi yang jelas, tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” tegasnya. (*)