| Ketua Paguyuban (P5) Shopping Center Kota Metro, Sultan Fahli Harman |
SEKELIK METRO – Pedagang yang ingin membuka usaha di kawasan Shopping Center Kota Metro disebut harus membayar iuran sebesar Rp3,5 juta. Pungutan tersebut dikenakan kepada pedagang baru yang hendak menempati ruang pertokoan di kawasan yang merupakan aset Pemerintah Kota (Pemkot) Metro tersebut.
Penarikan uang itu dilakukan oleh Paguyuban Perhimpunan Persaudaraan Pedagang Pertokoan (P5) Pasar Shopping Center. Ketua P5, Sultan Fahli Harman, membenarkan adanya pembayaran Rp3,5 juta bagi pedagang baru.
Namun, Sultan menegaskan uang tersebut bukan merupakan biaya sewa toko. Menurutnya, Rp3,5 juta merupakan iuran pemanfaatan yang hanya dibayarkan satu kali ketika pedagang baru bergabung dengan paguyuban.
"Uang iuran itu cuma sekali di awal. Ada kesepakatan dari hasil rapat. Jadi tidak ada urusan sewa-menyewa, itu tidak ada, tidak boleh," kata Sultan Fahli, Selasa (15/9/2026).
Sultan menjelaskan, pedagang baru biasanya menempati ruang yang sebelumnya sudah tidak digunakan oleh pedagang lama. Setelah terdapat kesepakatan, pedagang tersebut kemudian menjadi bagian dari paguyuban dan membayar iuran sesuai hasil musyawarah anggota.
Ia kembali menegaskan tidak ada praktik sewa-menyewa ruang pertokoan yang dilakukan P5. Alasannya, bangunan Shopping Center merupakan aset milik pemerintah daerah sehingga menurutnya paguyuban tidak memiliki kewenangan untuk menyewakannya.
"Dari awal pembahasan tidak ada sewa-menyewa. Tidak ada. Karena ini aset pemerintah, tidak boleh disewakan," ujarnya.
Sultan menyebut saat ini terdapat sekitar 100 pedagang lama yang masih menjalankan aktivitas perdagangan di Shopping Center. Sementara itu, sekitar 25 pedagang baru disebut sudah masuk, meski aktivitas mereka belum seluruhnya berjalan.
Ia juga menjelaskan kondisi sejumlah toko yang terlihat tutup. Menurut Sultan, hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan pedagang telah berhenti berjualan secara permanen. Sebagian pedagang memilih tidak membuka toko karena kondisi pasar sedang sepi dan pendapatan menurun.
"Yang lama masih normal, tidak ada perubahan. Sekitar hampir 100 pedagang kurang lebih yang masih buka. Bahkan yang tutup itu bukan karena tutup permanen, tapi karena lagi sepi, tidak ada pendapatan," kata Sultan. (*)