SEKELIK METRO — Kantin kontainer di lingkungan kampus tak ingin dilihat sekadar sebagai tempat berjualan. Wakil Wali Kota Metro M. Rafieq Adi Pradana mendorong fasilitas tersebut menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengenal dunia usaha sekaligus membangun kemandirian ekonomi.
Pesan itu disampaikan Rafieq saat membuka Launching Program Pemberdayaan Ekonomi Kantin Kontainer di Universitas Muhammadiyah Metro (UMM), Kamis (27/8/2026).
Program tersebut merupakan kolaborasi UPZDK PermataBank Syariah, Dompet Dhuafa, dan Universitas Muhammadiyah Metro. Kehadiran Kantin Kontainer diharapkan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk tidak hanya belajar teori kewirausahaan, tetapi juga mengelola usaha secara langsung.
Rafieq mengapresiasi program tersebut karena dinilai memiliki dampak yang lebih panjang dibandingkan bantuan yang hanya bersifat sesaat.
Menurutnya, keberhasilan sebuah program pemberdayaan seharusnya tidak hanya dilihat dari bantuan yang diberikan, tetapi dari kemampuan penerima untuk kemudian berdiri sendiri.
“Yang penting bagi saya bukan bentuk bantuannya, tetapi apakah bantuan itu membuat penerimanya semakin mandiri,” ujar Rafieq kepada wartawan.
Ia menilai persoalan ekonomi mahasiswa tidak selalu bisa diselesaikan dengan bantuan tunai. Bantuan memang dapat meringankan kebutuhan dalam jangka pendek, tetapi pemberdayaan dinilai lebih penting untuk membangun kemampuan ekonomi dalam jangka panjang.
“Kalau seseorang hanya kita bantu membayar kebutuhan hari ini, masalah hari ini mungkin selesai. Tetapi kalau kita bantu dia mempunyai kemampuan memperoleh penghasilan, dampaknya bisa jauh lebih panjang,” katanya.
Karena itu, Rafieq berharap Kantin Kontainer dapat menjadi tempat mahasiswa mengasah keberanian untuk memulai usaha. Perguruan tinggi, kata dia, memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja sekaligus dunia usaha.
Mahasiswa tidak hanya perlu dipersiapkan untuk menjadi pencari kerja. Mereka juga perlu didorong agar memiliki kemampuan menciptakan usaha dan membuka lapangan pekerjaan.
“Kita tetap membutuhkan anak muda yang siap bekerja, tetapi kita juga membutuhkan anak muda yang mampu membuka usaha,” jelasnya.
Menurut Rafieq, dampak tersebut bisa menjadi lebih luas ketika usaha yang dirintis mahasiswa berkembang dan mampu menyerap tenaga kerja.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan dana zakat dan dana sosial untuk program-program yang mendorong kemandirian penerima manfaat.
Rafieq menegaskan, bantuan tetap harus diberikan kepada masyarakat yang memang berhak. Namun, penerima yang memiliki potensi untuk berkembang juga perlu mendapatkan pendampingan agar secara perlahan mampu menghasilkan pendapatan sendiri.
“Tujuannya bukan membuat orang bergantung pada bantuan,” tegasnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan agar Kantin Kontainer tidak berhenti pada seremoni peluncuran atau sekadar menyediakan tempat berjualan.
Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali kemampuan dasar dalam menjalankan usaha, mulai dari kedisiplinan, pencatatan keuangan, menjaga kebersihan, menentukan harga, mempertahankan kualitas produk hingga membangun kepercayaan pelanggan.
“Dalam usaha kecil sekalipun ada soal disiplin, pencatatan uang, kebersihan, harga, mutu produk, dan kepercayaan konsumen. Kalau hal dasar itu tidak dikuasai, usaha akan sulit berkembang,” ucapnya.
Rafieq menilai penguatan ekonomi generasi muda membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, perbankan, lembaga zakat, dunia usaha hingga masyarakat dinilai memiliki peran masing-masing.
“Pemerintah punya tugas dan anggaran, tetapi kekuatan Kota Metro tidak hanya ada di pemerintah,” ungkapnya.
Ia berharap keberhasilan Kantin Kontainer nantinya tidak sekadar diukur dari berdirinya fasilitas atau ramainya kegiatan saat peluncuran.
Lebih jauh, ia ingin mahasiswa yang terlibat benar-benar mendapatkan pengalaman mengelola usaha, memperoleh penghasilan, serta memiliki bekal untuk melanjutkan usaha setelah menyelesaikan pendidikan.
“Bagi saya ukurannya sederhana. Apakah mahasiswa menjadi lebih mampu mengelola usaha, apakah dia memperoleh pendapatan, apakah pengetahuannya bertambah, dan apakah setelah lulus dia punya keberanian serta kemampuan untuk membangun usaha sendiri. Itu yang harus menjadi tujuan,” tandasnya. (*)