| Artikel ini disampaikan atas nama pemikiran dan sorotan publik Dr. dr. Drs. Med. H. Wahdi Siradjuddin, SpOG (K), SH, MH, Mantan Wali Kota Metro, demi terjaganya kesinambungan pembangunan dan cita-cita Generasi Emas Kota Metro |
GERAKAN Generasi Emas Metro Cemerlang atau GEMERLANG yang dicanangkan di Kota Metro sejak 2021 hingga Februari 2025 dinilai bukan sekadar slogan pemerintahan, melainkan bagian dari gagasan strategis pembangunan sumber daya manusia dalam mewujudkan visi Kota Metro sebagai Kota Pendidikan sekaligus mengambil bagian dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, memasuki 2025, nama dan semangat GEMERLANG dinilai mulai menghilang dari narasi pembangunan daerah. Kondisi tersebut mendapat perhatian dari mantan Walikota Metro, Dr. dr. Drs. Med. H. Wahdi Siradjuddin, Sp.OG (K), SH, MH.
Menurut Wahdi, hilangnya sebuah gerakan yang telah dibangun dengan orientasi jangka panjang merupakan sesuatu yang patut disayangkan. Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program, tetapi kesinambungan gagasan dalam membangun kualitas manusia Kota Metro.
GEMERLANG Bukan Sekadar Slogan, tetapi Investasi SDM Masa Depan
Wahdi menegaskan, GEMERLANG tidak semestinya dipandang hanya sebagai nama atau identitas pemerintahan pada suatu periode.
Lebih dari itu, GEMERLANG merupakan gagasan pembangunan yang menempatkan pendidikan, anak, dan generasi muda sebagai fondasi utama masa depan daerah.
Semangat tersebut bahkan telah diwujudkan dalam berbagai simbol pembangunan, di antaranya Tugu PENA dan Tugu GEMERLANG, yang menjadi penanda komitmen Kota Metro terhadap pembangunan generasi penerus.
Karena itu, menurut Wahdi, simbol-simbol tersebut semestinya tidak berhenti sebagai monumen fisik, tetapi terus dihidupkan melalui kebijakan dan gerakan nyata.
Kondisi sejumlah tugu yang disebut mulai kurang terawat dan ditumbuhi rumput bahkan dinilai dapat menjadi metafora tentang pentingnya merawat kembali semangat yang pernah dibangun.
“Jangan sampai simbolnya masih berdiri, tetapi semangat dan gagasan yang melahirkannya justru hilang. GEMERLANG harus dipahami sebagai investasi sumber daya manusia untuk masa depan, bukan sekadar nama sebuah program pemerintahan.”
Pergantian Pemimpin Bukan Alasan Menghentikan Gagasan Besar
Wahdi menilai, pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika demokrasi dan pemerintahan. Namun, pergantian pemimpin tidak semestinya otomatis memutus gagasan pembangunan yang memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Pergantian kepemimpinan seharusnya tidak berarti terputusnya cita-cita pembangunan. Pemimpin yang visioner memahami bahwa gagasan besar yang menyangkut kepentingan masyarakat dan masa depan generasi tidak boleh hilang hanya karena berganti pemerintahan.”
Menurutnya, pembangunan membutuhkan kesinambungan arah. Indonesia Emas 2045 sendiri merupakan cita-cita jangka panjang yang tidak mungkin dicapai melalui program yang hanya berorientasi pada satu periode kepemimpinan.
Karena itu, setiap program yang telah memberikan fondasi positif semestinya dievaluasi secara objektif, diperbaiki apabila diperlukan, kemudian dilanjutkan dengan inovasi yang lebih baik.
“Program yang baik tidak harus dihentikan hanya karena bukan lahir dari periode kepemimpinan sekarang. Yang terpenting adalah manfaatnya bagi masyarakat. Kalau baik, lanjutkan. Kalau kurang, perbaiki. Kalau perlu inovasi, kembangkan.”
Dari Desa hingga Pusat Pemerintahan, Pembangunan Harus Berbasis Kolaborasi
Wahdi juga menekankan pentingnya membangun peta jalan pembangunan yang berkesinambungan, mulai dari desa, wilayah pinggiran, komunitas, hingga pusat pemerintahan.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Pembangunan akan memiliki daya ungkit yang lebih besar apabila seluruh elemen masyarakat dilibatkan dalam semangat sinergi dan kolaborasi.
Masyarakat, kata Wahdi, bukan sekadar objek pembangunan, tetapi merupakan kekuatan utama yang harus diberdayakan.
JAMAPAI dan Beguai Jejama: Ketika Kearifan Lokal Menjadi Kekuatan Pembangunan
Sebagai contoh, Wahdi menyoroti gerakan JAMAPAI (Jaringan Masyarakat Peduli Anak Ibu) di tingkat Provinsi Lampung yang mengangkat semangat kearifan lokal Beguai Jejama.
Gerakan tersebut, menurutnya, menunjukkan bagaimana pembangunan dapat menjadi lebih kuat ketika pemerintah mampu menggerakkan dan memberdayakan potensi masyarakat.
Capaian Lampung yang meraih Juara I Lomba PAKIAS (Penurunan Angka Kematian Ibu, Anak dan Stunting) pada Juli 2025, menurut Wahdi, menjadi salah satu contoh penting bahwa kolaborasi pemerintah dan masyarakat dapat menghasilkan capaian yang membanggakan.
“Pemerintah tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan sendirian. Ketika masyarakat bergerak bersama, ketika kearifan lokal dijadikan kekuatan, maka pembangunan memiliki energi sosial yang jauh lebih besar.”
Pemimpin Sejati Merawat dan Meneruskan Gagasan
Bagi Wahdi, ukuran kepemimpinan bukan semata-mata seberapa banyak gagasan baru yang dilahirkan, tetapi juga seberapa mampu seorang pemimpin menemukan, merawat, mengembangkan, dan meneruskan gagasan baik yang telah tumbuh sebelumnya.
“Pemimpin tidak harus mengklaim seluruh gagasan sebagai miliknya. Pemimpin yang besar justru mampu menemukan, merawat, mengembangkan, dan menyambung berbagai gagasan baik yang tumbuh sebelumnya maupun di tengah masyarakat.”
Menurutnya, pembangunan adalah estafet. Setiap pemimpin memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi pada perjalanan panjang tersebut.
Karena itu, tidak seharusnya ada sikap untuk menghapus atau meniadakan sebuah gagasan hanya karena gagasan tersebut lahir pada periode pemerintahan sebelumnya.
“Cita-cita pembangunan tidak boleh berhenti hanya karena masa jabatan berakhir. Pemerintahan boleh berganti, tetapi kepentingan masyarakat dan masa depan generasi harus tetap menjadi prioritas.”
GEMERLANG, JAMAPAI, Beguai Jejama, dan Indonesia Emas 2045
Wahdi melihat terdapat benang merah yang dapat menghubungkan berbagai gagasan tersebut.
GEMERLANG adalah gagasan tentang generasi.
JAMAPAI adalah gerakan masyarakat.
Beguai Jejama adalah kearifan lokal.
Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita bersama.
Keempatnya, menurut Wahdi, dapat menjadi bagian dari satu semangat besar:
SINERGI DAN KOLABORASI PEMBANGUNAN
Dari desa dan wilayah pinggiran, membangun manusia berkualitas.
Dari Kota Metro dan Lampung, memberikan kontribusi bagi Indonesia.
Dari generasi hari ini, menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Mari Dukung Pemimpin yang Merawat Masa Depan
Pada akhirnya, Wahdi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendorong lahirnya kepemimpinan yang visioner, terbuka, kolaboratif, dan memiliki kemampuan melihat pembangunan dalam perspektif jangka panjang.
Pemimpin yang baik, menurutnya, bukanlah pemimpin yang berusaha memiliki seluruh gagasan, melainkan pemimpin yang mampu merawat gagasan baik, menyempurnakannya, dan memastikan manfaatnya terus dirasakan masyarakat.
“Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berpikir untuk hari ini, tetapi mampu melihat jauh ke depan. Pemimpin yang mau merawat gagasan, membuka ruang kolaborasi, dan memastikan pembangunan manusia terus berjalan lintas periode.”
Semangat GEMERLANG, kata Wahdi, harus kembali ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar bersama membangun kualitas generasi Kota Metro.
GEMERLANG bukan milik satu periode pemerintahan. GEMERLANG adalah, semangat untuk menyiapkan generasi masa depan.
BRAVO! Semoga GEMERLANG kembali menyala di Kota Metro.