-->

Notification

×

Iklan

data-ad-format="auto" data-full-width-responsive="true">

Iklan

Tebu Siap Panen Terancam Menurun Kualitasnya, Penundaan Giling PSMI Picu Kegelisahan Petani dan Buruh

4/03/26 | April 03, 2026 WIB | Last Updated 2026-04-03T14:31:02Z
WAY KANAN | SEKELIK METRO    — Ratusan petani tebu mandiri di wilayah Lampung dan Sumatera Selatan menghadapi ketidakpastian setelah jadwal tebang dan giling oleh PT Pemuka Sakti Manis Indah (PT PSMI) ditunda.

Sebelumnya, kegiatan tebang direncanakan dimulai pada tanggal 4, sementara proses penggilingan dijadwalkan berlangsung pada tanggal 5. Namun, rencana tersebut tertunda tanpa kepastian waktu pelaksanaan kembali.

Pihak manajemen PT PSMI menyampaikan bahwa penundaan terjadi karena perusahaan tengah menghadapi persoalan hukum dengan pihak kejaksaan.

Informasi yang diterima petani menyebutkan adanya kemungkinan langkah lanjutan, seperti penyegelan fasilitas pabrik hingga pembekuan rekening perusahaan.
Kondisi tersebut berdampak pada terhentinya aktivitas produksi dan memicu kekhawatiran di kalangan petani. Mereka menilai keterlambatan panen dapat memengaruhi kualitas tebu, terutama kadar gula yang berpotensi menurun jika melewati masa panen optimal.

“Kami dirugikan karena tebu yang sudah waktunya dipanen belum bisa ditebang. Jika terlalu lama, kualitasnya menurun,” kata Sartono, salah satu perwakilan petani.

Selain petani, dampak juga dirasakan oleh tenaga kerja tebang dan angkut. Sejumlah pekerja yang telah datang ke lokasi, termasuk dari Pulau Jawa, belum dapat bekerja akibat penundaan tersebut.

Sebagian dari mereka diketahui telah menerima uang muka atau kasbon dari petani sebelum musim panen dimulai. Dengan belum adanya aktivitas kerja, kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan beban tambahan bagi kedua belah pihak.

Menanggapi situasi tersebut, petani yang tergabung dalam Aliansi Darurat Petani Tebu Mandiri berencana menggelar aksi damai pada 9 April di kantor Kejaksaan Tinggi. Mereka bermaksud menyampaikan aspirasi serta meminta solusi atas persoalan yang dihadapi.

Petani berharap proses hukum yang berjalan tidak berdampak pada penghentian operasional pabrik. Mereka juga meminta agar ada jalan keluar yang tetap memungkinkan kegiatan penggilingan berlangsung.
“Kami berharap ada solusi agar proses giling tetap berjalan, sehingga petani tidak dirugikan,” ujar Edi, perwakilan aliansi petani.

Hingga saat ini, belum ada kepastian terkait jadwal tebang dan giling. Sementara itu, pihak petani masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari perusahaan maupun aparat penegak hukum. (Tem)