SEKELIK METRO – Wakil Wali Kota Metro, M. Rafieq Adi Pradana, menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup dinilai dari angka statistik. Menurutnya, keberhasilan pembangunan harus diikuti dengan terbukanya lapangan kerja, tumbuhnya wirausaha, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat, terutama kalangan generasi muda.
Hal itu disampaikan Rafieq saat menjadi pembicara utama dalam kegiatan Nusantara Youth Expo 2026 di UIN Jurai Siwo Lampung, Senin (2/11/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum tentu mencerminkan pemerataan kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Menurut Rafieq, pembangunan yang berhasil semestinya mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengembangkan potensi diri.
“Angka pertumbuhan itu penting, tetapi belum menjamin kesempatan yang merata,” ujarnya.
Ia merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026. Di sisi lain, tingkat pengangguran nasional pada Mei 2026 masih tercatat sebesar 4,65 persen.
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu diiringi dengan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas dan distribusi kesempatan yang lebih merata.
Tantangan lainnya adalah persoalan pemuda yang tidak sedang menempuh pendidikan, tidak bekerja, maupun tidak mengikuti pelatihan atau dikenal dengan istilah Not in Employment, Education, or Training (NEET).
BPS mencatat proporsi pemuda dalam kategori tersebut mencapai 19,44 persen secara nasional pada 2025. Sementara di Provinsi Lampung, angkanya berada pada level 18,07 persen.
Rafieq menilai kondisi itu perlu menjadi perhatian bersama karena masih terdapat anak muda yang belum memiliki akses memadai untuk mengembangkan kemampuan dan mencapai kemandirian ekonomi.
Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat keterkaitan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, lulusan pendidikan formal perlu dibekali keterampilan praktis agar mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus menciptakan peluang usaha secara mandiri.
“Pendidikan harus lebih dekat dengan praktik, pengalaman, dan kemampuan menyelesaikan persoalan,” katanya.
Dalam pemaparannya, Rafieq turut menyinggung sejumlah indikator pembangunan Kota Metro yang menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data BPS 2025, pertumbuhan ekonomi Kota Metro mencapai 5,20 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tercatat sebesar 81,22, tingkat pengangguran terbuka 3,54 persen, sedangkan angka kemiskinan berada pada level 6,44 persen.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian tersebut bukan alasan bagi pemerintah untuk berpuas diri. Pembangunan daerah, menurutnya, harus terus diarahkan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.
Rafieq juga mendorong mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk mengembangkan pola pikir yang berorientasi pada pemecahan masalah, bukan semata-mata mencari pekerjaan.
Ia mencontohkan sejumlah peluang yang dapat dikembangkan anak muda, mulai dari membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memasarkan produk, mengelola keuangan, meningkatkan kualitas pelayanan, hingga menciptakan inovasi bisnis.
Baginya, kemampuan memberikan solusi atas persoalan masyarakat dapat menjadi modal penting untuk membangun usaha sekaligus memperkuat perekonomian daerah.
Selain kualitas sumber daya manusia, perkembangan teknologi digital dinilai membuka peluang baru bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha.
Rafieq mengutip data Bank Indonesia hingga Juni 2026 yang mencatat penggunaan QRIS telah mencapai 65,77 juta pengguna, dengan 44,86 juta pelaku usaha sebagai penerima. Sebagian besar pelaku usaha tersebut berasal dari kelompok UMKM.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi seharusnya tidak berhenti pada aktivitas konsumsi dan transaksi. Generasi muda perlu mengoptimalkannya untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pemasaran, dan menciptakan peluang ekonomi baru.
Ia juga mendorong pemuda memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara bijak dengan tetap memperhatikan etika dan keamanan data.
Untuk mendukung langkah tersebut, Rafieq menilai kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas pemuda perlu diperkuat.
Pemerintah memiliki peran dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian serta inovasi, sedangkan dunia usaha dapat membuka akses pasar dan memberikan pengalaman praktis kepada generasi muda.
Ia turut mengingatkan para pengusaha pemula agar memahami pengelolaan biaya operasional, keuntungan, dan arus kas. Menurutnya, tingginya penjualan tidak selalu menjamin sebuah usaha berjalan sehat apabila pengelolaan keuangannya tidak dilakukan dengan baik.
Rafieq juga melihat sektor ekonomi kreatif dan kebudayaan lokal memiliki potensi untuk menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Kegiatan seni dan pertunjukan, misalnya, dapat menggerakkan berbagai sektor pendukung, seperti jasa penjahitan, tata rias, fotografi, produksi video, hingga perdagangan makanan.
Karena itu, ia mendorong kekayaan budaya Lampung dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mampu memperluas kesempatan kerja.
Di bidang lingkungan, Pemerintah Kota Metro juga mulai menjalankan program Pilah Berkah pada 12 Oktober 2026, yang diawali di TK Negeri 2 Metro Utara.
Program tersebut mengajak pelajar membiasakan diri memilah sampah plastik, kertas, dan logam agar dapat dimanfaatkan kembali. Namun, Rafieq menilai edukasi pemilahan sampah perlu didukung sistem pengumpulan dan pengolahan yang jelas agar memberikan hasil nyata.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program pemerintah tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, jumlah peserta, atau dokumentasi yang dihasilkan.
Menurutnya, indikator utama keberhasilan adalah perubahan yang dirasakan masyarakat. Pelatihan kewirausahaan, misalnya, perlu menghasilkan peningkatan keterampilan dan mendorong munculnya usaha baru. Sementara program lingkungan harus mampu mengubah kebiasaan masyarakat dan mengurangi volume sampah.
Menutup pemaparannya, Rafieq mengajak generasi muda untuk mulai berkontribusi melalui kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, tanpa harus menunggu menduduki jabatan tertentu atau memiliki modal besar.
Ia berharap anak muda dapat mengambil peran aktif dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Jangan menunggu menjadi pejabat untuk berkontribusi. Jangan menunggu modal besar untuk mulai berkarya,” tandasnya. (*)