Metro Minim Destinasi Wisata, Pemkot Siapkan “One Week One Event” di 2027

SEKELIK METRO – Kota Metro tak punya banyak pilihan ketika bicara destinasi wisata. Namun, keterbatasan objek wisata itu justru mendorong Pemerintah Kota Metro menyiapkan cara baru untuk menarik orang datang: satu pekan, satu event.

Konsep one week one event itu disiapkan untuk 2027. Bukan sekadar menggelar acara, Pemkot Metro ingin menjadikan rangkaian event sebagai magnet kunjungan sekaligus menggerakkan hotel, restoran, kafe, biro perjalanan, hingga pelaku ekonomi kreatif.

Rencana tersebut dibahas Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporaparkraf) Kota Metro, Subehi, bersama pengurus BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Metro, Kamis (6/8/2026).

Pemkot Metro bahkan mulai menyiapkan kalender event 2027 yang akan melibatkan berbagai stakeholder. Harapannya, kegiatan yang digelar tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi ikut memberikan dampak terhadap geliat ekonomi dan pendapatan asli daerah.

Pemkot Siapkan Kalender Event 2027

Subehi mengatakan, konsep satu pekan satu kegiatan akan melibatkan banyak pihak. Pemerintah ingin setiap event yang digelar memiliki daya tarik dan dapat menjadi bagian dari pembangunan sektor pariwisata Kota Metro.

Menurut dia, penyusunan kalender event menjadi langkah awal agar seluruh kegiatan selama 2027 dapat dirancang secara lebih terarah.

“Kami juga sudah menyampaikan kepada wali kota rencana membuat kalender event di tahun 2027 tersebut,” kata Subehi.

Ia mengatakan, Pemkot Metro akan menggandeng pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan kolaborasi tersebut, event yang digelar diharapkan memiliki kualitas dan daya tarik lebih kuat.

Subehi juga menyampaikan bahwa dirinya sempat berkomunikasi dengan Dirjen Pariwisata mengenai pengembangan dunia usaha pariwisata di Indonesia.
Menurutnya, pembangunan sektor pariwisata tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Pelaku usaha dan berbagai stakeholder perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan.

PHRI Ingatkan Pemkot Tak Hanya Kejar Pendapatan
Ketua BPC PHRI Kota Metro, H. Efriol Hadi, menyambut positif rencana tersebut.

Ia mengatakan, PHRI sejak berdiri telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan Kota Metro, khususnya melalui sektor perhotelan, restoran dan usaha pendukung pariwisata.

Namun, Efriol memberikan catatan agar pemerintah tidak hanya melihat event dari sisi pendapatan daerah.

Menurutnya, pemerintah juga perlu memperhatikan kondisi para pelaku usaha yang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.

“Kalau hanya memikirkan income tanpa perhatian terhadap usaha para anggota PHRI, sepertinya kurang balance,” ujar Efril.

Ia menjelaskan, anggota PHRI di Kota Metro cukup beragam. Tidak hanya hotel dan restoran, tetapi juga kafe, rumah makan, travel, biro perjalanan serta rumah kost atau asrama yang memiliki lebih dari 10 kamar.

Efriol menilai seluruh sektor tersebut memiliki keterkaitan dengan perkembangan pariwisata. Karena itu, ketika pemerintah membuat event, pelaku usaha juga harus mendapatkan manfaat dari aktivitas tersebut.

“Yang jelas rencana tersebut kami dukung dan perlu dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya agar rencananya lebih matang sebelum tahun 2027,” katanya.

Efriol juga menyebut para anggota PHRI selama ini memiliki kepatuhan dalam memenuhi kewajiban pajak kepada pemerintah daerah.

Event Dinilai Bisa Buka Peluang Ekonomi Kreatif
Dukungan terhadap konsep one week one event juga disampaikan Sekretaris BPC PHRI Kota Metro, Agus Supriyanto, yang merupakan pemilik Angkringan Viral.

Menurut Agus, agenda tersebut berpotensi membuka ruang usaha baru bagi pelaku ekonomi kreatif maupun sektor usaha lainnya.

Namun, ia menilai konsep tersebut perlu dipersiapkan secara matang dan tidak hanya melibatkan pemerintah serta PHRI.

“Rencananya perlu dimatangkan lebih maksimal dengan keterlibatan stakeholder lainnya yang sudah banyak membuka usaha di Kota Metro,” ujar Agus.

Menurutnya, semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula peluang event yang digelar memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat.

Pengalaman Festival Krakatau hingga Banyuwangi
Sementara itu, budayawan sekaligus salah satu penggagas berdirinya BPC PHRI Kota Metro, Naim Emel Prahana, turut memberikan masukan.

Naim yang kini menjabat Sekretaris Eksekutif BPC PHRI Kota Metro mengatakan, dirinya mendukung rencana Pemkot Metro apabila konsep event tersebut benar-benar diwujudkan pada 2027.

Ia berkaca pada pengalamannya ketika terlibat dalam Festival Krakatau bersama Proyek Pesisir USA beberapa tahun lalu.

Menurut Naim, pengembangan pariwisata tidak sebatas menghadirkan sebuah acara. Di dalamnya terdapat banyak sektor yang bisa dikembangkan, termasuk ekonomi masyarakat.

“Termasuk income dari kegiatan harus masuk,” kata Naim.

Ia juga menyinggung pengalamannya mengikuti berbagai event nasional maupun internasional, termasuk Festival Banyuwangi yang dinilai berhasil memperkenalkan daerah melalui rangkaian kegiatan dan karnaval.

Karena itu, Naim berharap Kota Metro tidak hanya membuat event untuk mengisi kalender kegiatan, tetapi mampu menjadikannya sebagai sarana memperkenalkan Metro ke luar daerah.

“Mari kita bangun dunia pariwisata di Kota Metro dan memperkenalkannya di tingkat nasional,” ujarnya.

PHRI Minta Pelaku Usaha Tak Jadi Korban
Meski mendukung kolaborasi Pemkot Metro dengan PHRI, Naim menyampaikan satu catatan penting.

Ia berharap pemerintah memberikan perhatian yang jelas terhadap keberlangsungan usaha anggota PHRI.

Menurutnya, jangan sampai pelaku usaha perhotelan, restoran dan sektor lainnya justru menghadapi persoalan yang membuat masyarakat atau wisatawan merasa enggan datang.

Naim menyinggung adanya kekhawatiran pelaku usaha terhadap tindakan oknum aparat dengan berbagai alasan yang menurutnya dapat membuat orang takut menginap di hotel di Kota Metro.

“Pemkot Metro menggandeng PHRI sudah tepat. Akan tetapi, harapan kami usaha perhotelan, restoran dan lainnya di Metro jangan dijadikan objek oleh oknum-oknum aparat dengan dalih beraneka ragam sehingga orang untuk menginap di hotel di Metro akhirnya takut,” ujarnya.

Menurut Naim, kondisi tersebut harus menjadi perhatian pemerintah apabila ingin membangun kolaborasi pariwisata yang benar-benar berjalan secara sinergis.

“Nah, kalau sudah demikian bagaimana kolaborasi yang akan dibangun secara sinergitas dimaksud?” katanya.

Pemkot Metro Respons Masukan PHRI
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kepala Disporaparkraf Kota Metro Subehi menyatakan pihaknya menyambut positif dukungan PHRI.

Ia memastikan masukan mengenai kondisi dan persoalan yang selama ini dihadapi pelaku usaha akan menjadi perhatian pemerintah.

“Kami akan memperhatikan apa-apa yang selama ini dihadapi anggota PHRI,” ujar Subehi.

Dengan rencana one week one event, Pemkot Metro kini memiliki pekerjaan besar sebelum kalender event 2027 benar-benar berjalan.

Sebab, tantangannya bukan hanya membuat acara setiap pekan. Lebih dari itu, pemerintah harus memastikan setiap event mampu mendatangkan orang, menghidupkan aktivitas usaha, memberi ruang bagi ekonomi kreatif, serta membawa manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha di Kota Metro. (*)